Artikel Edukasi Ibu & Anak

Informasi terpercaya mengenai kehamilan, menyusui, MPASI, serta tumbuh kembang anak.

Artikel Edukasi

13. Aspek Psikologis Ibu Menyusui

26 August 2026


Keberhasilan menyusui tidak hanya ditentukan oleh faktor fisik, tetapi juga oleh kondisi psikologis ibu. Kondisi emosional ibu berpengaruh langsung terhadap produksi hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan dalam pembentukan dan pengeluaran ASI. Ibu yang merasa tenang, didukung, dan percaya diri cenderung memiliki kelancaran ASI yang lebih baik. Sebaliknya, stres, cemas, dan kurangnya dukungan dapat menyebabkan penurunan produksi ASI. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental ibu menyusui merupakan hal yang penting agar proses pemberian ASI dapat berjalan optimal.

  1. Bentuk Emosi yang Dialami Ibu Menyusui

Pasca melahirkan, seorang ibu memiliki tanggung jawab baru yaitu mengurus bayi dan memberikan ASI. Pada masa ini ibu sering mengalami perubahan emosi. Emosi positif seperti bahagia, bangga, dan merasa dekat dengan bayi dapat muncul saat menyusui karena pelepasan hormon oksitosin. 

Contoh: Ibu merasa tenang dan bahagia saat melakukan skin to skin dan menyusui di jam pertama kelahiran.

Namun ibu juga dapat mengalami emosi negatif yang dikenal sebagai baby blues syndrome. Kondisi ini umum terjadi beberapa hari setelah melahirkan akibat perubahan hormon.

Ciri-cirinya antara lain mood swing, mudah cemas, marah, cepat lelah, insomnia, kurang nafsu makan, sedih, hingga tiba-tiba menangis. 

Kenapa Ibu Menyusui Sering Merasa Lelah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Contoh: Ibu baru merasa khawatir ASI-nya tidak cukup ketika bayi sering menangis, padahal hal tersebut merupakan pola menyusu sesuai kebutuhan. Jika tidak ditangani dengan baik, baby blues dapat berkembang menjadi depresi pasca melahirkan atau Postpartum Depression yang lebih berat. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi menjadi semakin rewel dan membuat ibu merasa gagal, tidak pantas menjadi seorang ibu, hingga membenci diri sendiri dan orang di sekitarnya.

  1. Faktor yang Memengaruhi Psikologis Ibu

Ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi psikologis ibu menyusui. Pertama adalah dukungan keluarga, terutama pasangan. 

Contoh: Ibu akan merasa lebih termotivasi dan aman ketika suami membantu mengasuh bayi, menemani menyusui malam hari, dan memberikan apresiasi atas usahanya. Kedua adalah dukungan tenaga kesehatan. 

Contoh: Kepercayaan diri ibu meningkat setelah mendapatkan edukasi dan pelatihan pelekatan yang benar dari bidan atau konselor laktasi di Puskesmas. Ketiga adalah pengetahuan dan informasi yang dimiliki ibu. Ibu yang memahami proses menyusui akan lebih siap menghadapi tantangan dan tidak mudah panik atau terpengaruh mitos.

 

  1. Upaya Menjaga Kesehatan Psikologis Ibu

Untuk menjaga kesehatan mental ibu menyusui diperlukan lingkungan yang suportif. Peran pasangan dan keluarga sangat penting pada masa baby blues. Keluarga dapat memberikan dukungan emosional dengan mendengarkan keluh kesah ibu, membantu pekerjaan rumah, dan tidak menyalahkan ibu ketika bayi rewel. Tenaga kesehatan dapat memberikan konseling, edukasi yang benar, dan rujukan jika diperlukan. 

Contoh: Mengikuti kelas ibu hamil, kelas menyusui, atau bergabung dengan komunitas ibu menyusui dapat membantu ibu saling berbagi pengalaman dan mengurangi rasa cemas.

Dengan demikian, perhatian terhadap kesehatan mental ibu menyusui sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan fisik. Ibu yang memiliki kondisi psikologis yang stabil akan lebih mampu memberikan ASI secara optimal. Hal ini pada akhirnya akan mendukung pemenuhan kebutuhan gizi dan emosional bayi serta keberhasilan program ASI Eksklusif.