Masyarakat sering kali memiliki berbagai kepercayaan mengenai menyusui yang diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, tidak semua informasi tersebut benar secara ilmiah. Mitos yang keliru dapat menyebabkan ibu kehilangan kepercayaan diri dan menghambat keberhasilan pemberian ASI. Oleh karena itu, penting bagi ibu dan keluarga untuk memahami fakta yang benar berdasarkan bukti ilmiah
| Mitos | Fakta |
|---|---|
| ASI yang encer berarti tidak bergizi. | Semua ASI mengandung zat gizi yang dibutuhkan bayi. ASI yang tampak encer (foremilk) kaya akan air dan laktosa untuk menghilangkan haus bayi, sedangkan ASI yang keluar kemudian (hindmilk) lebih kaya lemak dan energi. |
| Payudara kecil menghasilkan ASI lebih sedikit daripada payudara besar. | Ukuran payudara tidak menentukan banyaknya produksi ASI. Produksi ASI lebih dipengaruhi oleh frekuensi menyusui dan pengosongan payudara yang efektif. |
| Ibu harus menghentikan menyusui saat sakit. | Sebagian besar penyakit ringan seperti flu, batuk, atau demam tidak mengharuskan ibu berhenti menyusui. Bahkan ASI mengandung antibodi yang dapat membantu melindungi bayi dari infeksi. |
| ASI pertama (kolostrum) harus dibuang karena kotor. | Kolostrum justru merupakan ASI terbaik bagi bayi baru lahir. Kolostrum kaya antibodi, protein, vitamin, dan faktor pertumbuhan yang membantu melindungi bayi dari infeksi. |
| Bayi yang sering menangis berarti ASI ibu tidak cukup. | Tangisan bayi tidak selalu menunjukkan rasa lapar. Bayi dapat menangis karena mengantuk, tidak nyaman, ingin digendong, atau popoknya basah. Kecukupan ASI dinilai dari pertambahan berat badan, frekuensi BAK, dan kondisi bayi secara umum. |
| Ibu menyusui harus makan dua kali lebih banyak. | Ibu menyusui memang membutuhkan energi tambahan, tetapi bukan berarti harus makan dua kali lipat. Hal yang penting adalah mengonsumsi makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan. |
| Semakin lama bayi menyusu, semakin banyak ASI yang didapat. | Lama menyusu tidak selalu mencerminkan banyaknya ASI yang diminum bayi. Yang lebih penting adalah pelekatan yang benar dan efektivitas hisapan bayi. |
| Bayi yang diberi susu formula akan tidur lebih nyenyak daripada bayi yang mendapat ASI. | Pola tidur bayi dipengaruhi banyak faktor. Bayi yang mendapat ASI juga dapat tidur dengan baik dan memperoleh manfaat kesehatan yang lebih besar dibandingkan susu formula. |
| Menyusui menyebabkan payudara menjadi kendur. | Perubahan bentuk payudara lebih banyak dipengaruhi oleh kehamilan, usia, faktor genetik, dan perubahan berat badan, bukan karena menyusui. |
| ASI tidak cukup jika payudara terasa lembek. | Payudara yang terasa lebih lembek setelah beberapa minggu menyusui merupakan hal normal karena tubuh telah menyesuaikan produksi ASI sesuai kebutuhan bayi. |
| Ibu bekerja tidak bisa memberikan ASI eksklusif. | Ibu bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan memerah, menyimpan, dan memberikan ASI perah (ASIP) kepada bayi. |
| Menyusui harus dijadwalkan setiap 3–4 jam. | Bayi sebaiknya disusui sesuai kebutuhan (on demand). Menyusui lebih sering justru membantu meningkatkan produksi ASI. |
| Jika ibu hamil lagi, harus langsung berhenti menyusui. | Pada sebagian besar kehamilan normal, menyusui masih dapat dilanjutkan. Namun, perlu konsultasi dengan tenaga kesehatan jika terdapat kondisi tertentu yang berisiko. |
| Daun kelor atau pelancar ASI saja sudah cukup untuk meningkatkan ASI. | Produksi ASI terutama ditentukan oleh frekuensi menyusui, pelekatan yang benar, dan pengosongan payudara yang efektif serta asupan nutrisi gizi seimbang. Galaktagog seperti daun kelor bersifat membantu. |
| Puting lecet berarti ibu harus berhenti menyusui. | Puting lecet umumnya disebabkan oleh pelekatan yang kurang tepat. Menyusui tetap dapat dilanjutkan sambil memperbaiki posisi dan pelekatan bayi. |